Pandemi covid 19 yang terjadi di Indonesia mengakibatkan proses pembelajaran berlangsung secara virtual. Proses tatap muka yang menjadi kebiasaan terpaksa harus dihentikan. Berbagai strategi pembelajaran dirancang guna memenuhi tuntutan perkembangan proses pembelajaran tanpa mengurangi kualitas dan kuantitas mutu pendidikan. SMP Muhammadiyah 1 Gresik berupaya memenuhi kebutuhan siswa akan belajar dengan metode pembuatan video pembelajaran berbasis audio-visual.

Para guru berlomba untuk menciptakan kreasi dan inovasi, dari yang junior hingga senior. Umur tak menjadi pembatas bagi para guru Spemutu untuk terus bercipta media. Guru junior seakan menularkan semangat muda pada guru senior. Salah satu guru junior yang sangat bersemangat untuk membuat media pembelajaran Tri Wahyuningsih SPd, guru IPA Spemutu ini mengungkapkan keberadaan media sosial menjadi penting sebagai media pembelajaran di era pandemi ini. Menurutnya media yang saat ini dibutuhkan oleh siswa adalah handphone atau laptop. Guru yang aktif mengajar sejak tahun 2005 ini menjelaskan bahwa ia menggunakan gabungan beberapa media untuk menyampaikan materi pelajaran. “Saya membuat powerpoint berisi materi pembelajaran, juga membuat video pembelajaran agar lebih bisa diserap oleh siswa” ujarnya. Ia juga menambahkan, penggunaan grup whatsapp sangat dibutuhkan untuk memudahkan interaksi juga komunikasi dengan para siswa.

Pembuatan media pembelajaran tentulah memiliki kesulitan dalam prosesnya, termasuk kesulitan yang dialami oleh Tri, sapaan akrab Tri Wahyuningsih. “Kesulitan yang besar sih tidak ada. Hanya saja mengemas materi semenarik mungkin agar anak-anak tidak bosan selama belajar daring, salah satu kesulitan yang saya alami. Beberapa teman juga mengalami hal yang sama, selain itu jaringan internet yang kadang tidak stabil menjadi hambatan kita dalam mencipta media” ujarnya.

Berbeda dengan Tri, guru senior Mahfudz Asyrofi MSi mengalami kesulitan dalam hal waktu. Menurutnya sebagai seorang guru berusia hampir 57 tahun, teknologi yang ada menuntutnya untuk terus belajar. “Ya tidak seperti yang canggih teknologi. Saya kan belajar otodikdak. Jadi dalam proses pembuatan materi membutuhkan pengulangan sehingga membutuhkan waktu lebih banyak” ujar guru Ismuba ini.

Menurutnya, sebagai guru bagaimanapun juga harus berusaha. Selain nilai perilaku, juga nilai pengetahuan. Singkatnya guru harus mencari cara dan pola yang tepat untuk materi agar mudah diserap oleh siswa. Ia mengungkapkan sebagai seorang guru Agama, ia memiliki tantangan tersendiri. “Selain pendalaman ilmu dan mencari pola untuk media pembelajaran, maka kita harus hati-hati untuk mencari media yang tepat. Karena bisa jadi dalam satu materi, sholat misalnya, anak-anak mencari yang dia suka. Bukan mana paling benar” ujarnya (Awiyan Subekti).